tentara mati ditengah hutan, ledakan besar tak terdengar. kaki hilang, tangan terjepit. tangis menyesal maupun bahagia bisa dilihat mata telanjang. kapten bilang pergi, anak bawang hanya melongo. kapten bilang jangan beranjak, anak bawang malah kabur sambil angkat rok. namanya juga pilihan harus terima resikolah! kalo gamau terima pusing-pusing, bantu bapak cuci mobil sama antar ibu ke salon saja bung!
Monday, April 21, 2014
Untitled4.
indah hariku saat kutatap senyumnya.
terbuai aku dalam salah satu ciptaan tuhan ini.
kehangatan melengkapi jiwa yang dingin.
rindu aku dekat dengannya.
hati berdukap kencang hingga tak mampu kututupi padanya.
kurasa dia tahu, namun tak ingin tahu.
mungkin hanya diriku saja yang merasa demikian.
mungkin hanya perasaan ku saja yang selalu terburu-buru.
dan mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu lembek untuk berfikir.. dia bisa melengkapiku.
ahh aku ini tolol! aku hanya mampu memikirkan yang ada padaku saja.
aku tak memikirkan perasaan orang lain.
dan mungkin memang benar aku ini egois seperti binatang jalang.
Tuesday, April 8, 2014
Untitled3.
sepasang bola mata berbinar. senyum memperindah raut wajah. ranum merah muncul dipipi. telinga mempertajam indranya. kulit merasakan sentuhan. hidung yang sendiri pun menghirup wewangian yang khas. lidah berusaha mengucap rangkaian keagungan makna sebuah kalimat. lesung pipi tanda ketulusan. pikiran mencoba menelusuri suatu kenangan. tangan terasa dingin didalam kehangatan. perasaan mencoba berargumen dengan logika. namun hati.. tetap tak bisa berkata bohong...
Monday, April 7, 2014
Untitled2.
mereka mempermainkan gadis itu dengan cantik layaknnya dalang yang sangat hebat. angin malam membuat cerita seakan-akan itu terjadi, lalu matahari tidak pernah mundur untuk mendongengkan kepalsuan pada gadis kecilnya itu. mutiara kepedihan hatinya mulai jatuh mencium pipinya yang telah basah, nafasnya mulai tersenggal-senggal seperti orang yang baru saja melihat setan, meski baginya melihat setan bukanlah ketakutan pertamanya. namun tiba-tiba matahari menghilang dari sisinya dalam sekejap, dan itu sudah sangat membuat perasaannya sangat hancur berkeping-keping. Disisi lain kekasih angin malam begitu sangat berhasil merubah perasaannya seketika dengan kekuatan suatu kata-kata yang mampu menghancurkannya menjadi sangat rusak hingga tak mampu lagi berfungsi dan tak ada lagi perasaan yang tertinggal didalam jiwa dan raganya. gadis itu kini hanyalah kulit telur tanpa isinya, terlihat kuat namun jika diremas oleh segenggam tangan saja akan berubah layaknya butiran pasir. matanya mengisyaratkan kepedihan walau bibirnya selalu menyunggingkan senyuman. Dikala senja mulai menghilang dia selalu menatap langit-langit yang terlihat putih tak bercahaya, lau ia pun bertanya pada Sang Penciptannya tentang suatu takdir. dia katakan Padanya "Penciptaku.. mengapa kau karyakan ceritaku begitu rumit layaknya mengerjakan soal matematika? saatku telah selesaikan satu masalah tentang X dan menemukan jawabannya, disitulah tiba perkara tentang Y. Tuhan aku lelah menghadapi satu soal itu, aku menyerah, dan dayaku telah habis menghadapinya.. benamkan saja jangkar hitam itu tepat dijantungku!" lalu malam membawanya terlelap dalam kalimat dan perasaan tertahannya. Dia menyesal membuka mata.
untitled1.
Sakit
mengiringi kepergian sang kekasih . Aku bertanya pada angin malam, namun hanya
hembusan dingin yang diberikannya. Ku tanya matahari, ahh hanya ucapan manis yang di berikan dan jujur saja aku muak dengan itu. Ku hiraukan sejenak
perkara duniawi, namun hati memaksa ingin tahu walau sejujurnya pikiran tak
mau ikut campur. Rasanya seperti hilang dibawa kegelapan. Tapi tak kusangka,
tanpa kuinginkan kudengar alunan merdu dentingan nada dari gelas-gelas yang
mewadahi dimensi imajinasi. Seketika tak ingin beranjak dari kediaman, rasanya
ingin menetap. Lalu.. terasa hati tercabik akan sebuah kegaduhan jiwa yang
terperangkap didalam raga yg terdoktrin kawanan angin malam. Aku bosan, aku
lelah, aku hina, lalu aku lelapkan saja diriku diatas daun bergoyang. Katanya
si mulut ini, semua hanya jelmaan diri yang terperangkap tak bisa menggaduh seperti
dijalan layaknya mobil-mobil yg berseliweran seperti lalat warung. Kulari melewati
bayang-bayang kerasnya dinding kota, aku merasa jijik! Tapi aku tetap
menengadahkan wajahku keatas agar aku bisa melihat embun-embun kehinaan wanita
jalang. Aku mau tahu saja. Tiba-tiba kurasa jiwa ini mulai mengering seperti
daun bawang yang telah lama terperangkap didalam kulkas, meski raga masih terlihat kuat layaknya kulit
telur yang belum terbentur ujung garpu.
Sunday, March 30, 2014
Untitled.
Masa lalu memang menetap ditempatnya, walau kadang setiap hal kecil selalu membawa kita kembali kemasa kelam itu..
Nafas terasa berat layaknya bongkahan batu besar menghantam hati begitu keras tanpa pandang bulu. Sepintas kenangan pahit mencabik-cabik diriku hingga tak tahu lagi bagaimana harus bertindak. Bola mata tak mampu lagi menahan butiran mutiara kepahitan yg membasahi pipi, meski kadang mulut selalu memberikan kesan kebahagian melalui senyuman hangat. Sentuhan manis pada pundak hanyalah penyegar semata tanda kasihan.
Namun.. Ahhh sudahlah.. aku tak ingin belas kasihan angin malam yang menerpa wajahku tiap kali ku tutup pengetahuanku akan dunia yg keji ini, aku tak butuh janji keindahan duniawi yang matahari lontarkan padaku, aku lelah mendengarnya..
Nafas terasa berat layaknya bongkahan batu besar menghantam hati begitu keras tanpa pandang bulu. Sepintas kenangan pahit mencabik-cabik diriku hingga tak tahu lagi bagaimana harus bertindak. Bola mata tak mampu lagi menahan butiran mutiara kepahitan yg membasahi pipi, meski kadang mulut selalu memberikan kesan kebahagian melalui senyuman hangat. Sentuhan manis pada pundak hanyalah penyegar semata tanda kasihan.
Namun.. Ahhh sudahlah.. aku tak ingin belas kasihan angin malam yang menerpa wajahku tiap kali ku tutup pengetahuanku akan dunia yg keji ini, aku tak butuh janji keindahan duniawi yang matahari lontarkan padaku, aku lelah mendengarnya..
Sunday, January 19, 2014
Subscribe to:
Comments (Atom)