Monday, April 7, 2014
Untitled2.
mereka mempermainkan gadis itu dengan cantik layaknnya dalang yang sangat hebat. angin malam membuat cerita seakan-akan itu terjadi, lalu matahari tidak pernah mundur untuk mendongengkan kepalsuan pada gadis kecilnya itu. mutiara kepedihan hatinya mulai jatuh mencium pipinya yang telah basah, nafasnya mulai tersenggal-senggal seperti orang yang baru saja melihat setan, meski baginya melihat setan bukanlah ketakutan pertamanya. namun tiba-tiba matahari menghilang dari sisinya dalam sekejap, dan itu sudah sangat membuat perasaannya sangat hancur berkeping-keping. Disisi lain kekasih angin malam begitu sangat berhasil merubah perasaannya seketika dengan kekuatan suatu kata-kata yang mampu menghancurkannya menjadi sangat rusak hingga tak mampu lagi berfungsi dan tak ada lagi perasaan yang tertinggal didalam jiwa dan raganya. gadis itu kini hanyalah kulit telur tanpa isinya, terlihat kuat namun jika diremas oleh segenggam tangan saja akan berubah layaknya butiran pasir. matanya mengisyaratkan kepedihan walau bibirnya selalu menyunggingkan senyuman. Dikala senja mulai menghilang dia selalu menatap langit-langit yang terlihat putih tak bercahaya, lau ia pun bertanya pada Sang Penciptannya tentang suatu takdir. dia katakan Padanya "Penciptaku.. mengapa kau karyakan ceritaku begitu rumit layaknya mengerjakan soal matematika? saatku telah selesaikan satu masalah tentang X dan menemukan jawabannya, disitulah tiba perkara tentang Y. Tuhan aku lelah menghadapi satu soal itu, aku menyerah, dan dayaku telah habis menghadapinya.. benamkan saja jangkar hitam itu tepat dijantungku!" lalu malam membawanya terlelap dalam kalimat dan perasaan tertahannya. Dia menyesal membuka mata.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment