Monday, April 7, 2014
untitled1.
Sakit
mengiringi kepergian sang kekasih . Aku bertanya pada angin malam, namun hanya
hembusan dingin yang diberikannya. Ku tanya matahari, ahh hanya ucapan manis yang di berikan dan jujur saja aku muak dengan itu. Ku hiraukan sejenak
perkara duniawi, namun hati memaksa ingin tahu walau sejujurnya pikiran tak
mau ikut campur. Rasanya seperti hilang dibawa kegelapan. Tapi tak kusangka,
tanpa kuinginkan kudengar alunan merdu dentingan nada dari gelas-gelas yang
mewadahi dimensi imajinasi. Seketika tak ingin beranjak dari kediaman, rasanya
ingin menetap. Lalu.. terasa hati tercabik akan sebuah kegaduhan jiwa yang
terperangkap didalam raga yg terdoktrin kawanan angin malam. Aku bosan, aku
lelah, aku hina, lalu aku lelapkan saja diriku diatas daun bergoyang. Katanya
si mulut ini, semua hanya jelmaan diri yang terperangkap tak bisa menggaduh seperti
dijalan layaknya mobil-mobil yg berseliweran seperti lalat warung. Kulari melewati
bayang-bayang kerasnya dinding kota, aku merasa jijik! Tapi aku tetap
menengadahkan wajahku keatas agar aku bisa melihat embun-embun kehinaan wanita
jalang. Aku mau tahu saja. Tiba-tiba kurasa jiwa ini mulai mengering seperti
daun bawang yang telah lama terperangkap didalam kulkas, meski raga masih terlihat kuat layaknya kulit
telur yang belum terbentur ujung garpu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment